Anda tidak bisa benar-benar ‘jatuh’ dari Gunung Rinjani seperti terjatuh dari gedung atau tepi tebing ke dalam jurang, namun Anda pasti bisa terjatuh dan melukai diri sendiri dengan parah. Rute trekking standar tidak berjalan di sepanjang tepi tebing yang tidak terlindungi di mana jika tersandung berarti terjun fatal. Namun punggung puncaknya sempit dan terbuka, dengan lereng curam di kedua sisinya. Terpeleset atau tersandung di tempat yang salah dapat menyebabkan Anda terjatuh di lereng curam, yang dapat mengakibatkan cedera serius seperti patah tulang atau trauma kepala. Ini bukan risiko teoritis.
Hal ini terjadi pada trekker yang tidak memiliki panduan atau tidak memiliki panduan yang baik. Bahaya terjatuh yang paling umum terjadi adalah pada lapisan gunung berapi yang lepas itu sendiri. Pendaki sering terpeleset dan jatuh saat mendekati puncak, biasanya mengakibatkan goresan, memar, atau pergelangan kaki terkilir, bukan cedera serius. Namun terjatuh di medan berbatu pada ketinggian 3.000 meter dalam suhu beku bukanlah sebuah lelucon. Sepatu bot trekking yang tepat dengan penyangga pergelangan kaki, tiang trekking untuk stabilitas, dan penempatan kaki yang hati-hati sangat mengurangi risiko ini.
Pemandu kami di Lombok-Indonesia.org terus memantau penempatan kaki dan memberi saran kepada klien tentang cara bergerak dengan aman di layar. Jatuh merupakan risiko nyata di Rinjani, namun sebagian besar dapat dicegah dengan peralatan yang tepat, langkah yang konservatif, dan bimbingan profesional. Pendaki yang tidak terarah, orang-orang dengan alas kaki yang tidak memadai, dan mereka yang terburu-buru adalah orang-orang yang akan terluka. Bersama tim kami, risiko jatuh yang serius menjadi minimal karena kami mengelola faktor-faktor penyebabnya: kecepatan, kelelahan, perlengkapan, dan kesadaran akan medan.

