Pembicaraan nyata, ya. Ada banyak oksigen di puncak untuk orang sehat. Pada ketinggian 3.726 meter, Anda akan bernapas lebih keras dan jantung Anda akan berdebar kencang, namun ketinggian tersebut tidak berbahaya. Anda berada jauh di bawah ketinggian di mana kelangkaan oksigen menjadi bahaya fisiologis yang nyata.
Kebanyakan orang yang merasa sesak napas di sana hanyalah kelelahan karena mendaki gunung berapi yang curam di udara dingin yang membekukan. Ini bukan kekurangan oksigen. Anda tidak memerlukan tangki tambahan, dan pemandu kami di Lombok-Indonesia.org tidak membawanya karena tidak diperlukan pada ketinggian ini.
Jika Anda menderita asma atau gangguan pernafasan, bawalah inhaler Anda dan konsultasikan dengan dokter Anda terlebih dahulu. Namun bagi semua orang, tantangan sebenarnya adalah suhu dingin dan upaya fisik, bukan oksigen. Udara lebih tipis dibandingkan permukaan laut, sehingga paru-paru Anda bekerja lebih keras dan detak jantung Anda meningkat. Tapi kamu akan baik-baik saja.
Tim kami telah memandu ribuan orang ke puncak tanpa satu pun insiden terkait oksigen. Mereka akan mengingatkan Anda untuk bernapas dengan teratur, beristirahat secara teratur, dan mengatur kecepatan diri Anda saat melakukan dorongan terakhir. Berfokus pada pernapasan yang terkontrol dan berirama daripada terengah-engah mengubah pengalaman puncak dari perjuangan menjadi pendakian yang dapat dikelola.
Tantangan sebenarnya di puncak adalah kombinasi suhu dingin, lapisan vulkanik yang lepas, dan pendakian dalam kegelapan sebelum matahari terbit. Semua itu bisa membuat pernapasan terasa sesak meski oksigen berlimpah. Jaga pernapasan Anda tetap terkendali dan percayalah pada tubuh Anda.

